Kelebihan Gula Belum Tentu Membuat Anak Jadi Hiperaktif, Ini Alasannya


Makanan manis sering dikaitkan dengan anak yang hiperaktif. Dilansir dari kumparan , banyak yang beranggapan jika seorang anak terlalu banyak mengonsumsi gula maka bisa berdampak buruk pada perkembangan tubuhnya, terutama pada kegiatan fisik yang melebihi anak normal lainnya.

Gula juga digadang-gadang sebagai penyebab anak menjadi hiperaktif. Namun, tak boleh asal memberikan label hiperaktif pada seorang anak jika belum diperiksakan langsung ke dokter terkait.

Dr. dr. Saptawati Bardosono, M.Sc, pakar gizi dan dosen Fakultas Kedokteram Universitas Indonesia, menjelaskan jika anak yang memiliki energi lebih saat beraktivitas belum tentu menderita hiperaktif.

“Hiperaktif itu kan sebuah gangguan penyakit. Orang tua ngga boleh asal memberikan label anaknya hiperaktif kalau belum memeriksakan anaknya ke dokter,” jelas Dr. Saptawati saat ditemui kumparan di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Senin (7/8).

“Karena anak yang terlalu aktif atau memiliki energi lebih bukan lantas anak tersebut bisa dikatakan memiliki gangguan hiperaktif,” tambahnya.

Gula memang menjadi sebuah ‘bahan bakar’ yang memberikan energi pada tubuh dan otak agar bisa berfungsi lebih baik. Namun, jika dikonsumsi terlalu banyak, terutama oleh anak jusru akan membuatnya menjadi sangat berenergi.

Jika sudah begini, maka anak butuh untuk menghabiskan ‘bahan bakar’ tersebut dengan cara mengeluarkannya melalui kegiatan fisik yang tak henti-hentinya berakhir.

“Gula kan sebagai fuel ya atau bahan bakar. Otak akan senang jika diasup terus oleh gula secara terus menerus. Yang terjadi adalah, anak perlu membuang asupan gula tersebut yang telah diubah menjadi energi dalam bentuk kegiatan fisik,” papar Dr. Saptawati.

“Karena asupan gulanya sangat banyak, maka kegiatan fisik anak juga ikut bertambah. Anak menjadi terlalu bersemangat dalam beraktivitas. Tapi, nanti ketika gula tersebut sudah terbuang, maka anak pun akan kembali normal pada umumnya karena anak juga mempunyai pertahanan tubuh yang cukup kuat,” sambungnya.

Dr. Saptawati juga mengimbau para orang tua untuk tidak langsung memberikan label hiperaktif. Karena cara ini sama saja dengan menggolongkan anak Anda ke dalam golongan anak yang menderita sebuah penyakit. Diagnosa dokter harus dilakukan demi mengetahui lebih lanjut mengenai kondisi anak Anda saat ini.

Sumber : kumparan.com

No comments have been made. Use this form to start the conversation :)

Leave a Reply