IMS 2020 : Fahroni Arifin Lebih Fokus Optimalkan Jaringan 4G

IMS 2020: Fahroni Arifin, Sosok Inovatif di Balik Indosat Ooredo

Sebagaimana yang diketahui bahwa Indonesia sempat digembar-gemborkan dengan adanya jaringan 5G (fifth generation) yang pastinya lebih canggih dibandingkan 4G. Bahkan, kabarnya jaringan 5G ini rencananya akan ada di Indonesia pada tahun 2021. Hal ini dikarenakan belum semua provider Indonesia bisa menggunakannya.

Dalam hal ini, Fahroni Arifin selaku SPV Head of Brand Management dan Strategy Indosat Ooredoo, mengatakan ketersediaan devicenya 5G juga belum banyak. Jadi kemungkinan Indonesia akan bisa menyusul tahun depan. Selain itu, banyaknya penelitian serta uji coba yang harus dilakukan sehingga membuat peluncuran 5G ini nampaknya akan lama untuk bisa digunakan di tanah air. Apalagi Indonesia masih fokus dalam mengembangkan akses internet 4G dibandingkan 5G. Mengingat belum semua daerah di nusantara memiliki jaringan 4G yang baik. Berikut beberapa fakta mengenai 5G yang harus diketahui :

  1. Jaringan 5G Bukan Untuk Mobile Phone

Perlu diketahui bahwa di beberapa negara maju, seperti Korea dan Jepang sudah mulai menggunakan 5G sebagain akses internetnya. Dengan melihat keunggulan yang dimiliki oleh jaringan 5G tersebut, membuat kecepatan 4G dinilai sudah cukup memadai jika segmentasinya hanya diperuntukkan untuk mobile phone. “5G benar-benar teknologi yang luat biasa, aplikasi itu mostly bukan untuk mobile device, tapi pada loT (Internet of Thing). Karena kita menggunakan drone, dan itu bukan untuk mobile phone. Konsumsi standar kita untuk digital mobile phone itu masih sangat cukup dengan 4G saja, jelas Fahroni Arifin dalam acara Indonesia Millenial Summit 2020.Dimana acara IMS 2020 by IDN Media ini digelar pada hari Sabtu (18/1/2020) di Gedung Tribrata, Dharmawangsa, Jakarta Selatan.

  • Tarif 5G Terlalu Mahal Untuk Pasar Indonesia

Dalam hal ini, biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk bisa menikmati penggunaan akses internet 5G ini masih cukup mahal. Begitu juga dalam pengadaannya, dikarenakan ada banyak hal yang harus dipersiapkan. “Ketika kita mulai masuk 5G, semua hardware harus berubah dan ada teknologi spesifik yang membuat 5G harus lebih rapat. Jika BTS (Base Transceiver Station) 4G itu jaraknya 1 kilometer, begitu 5G kita harus meng-adjust itu. Jadi investasi untuk itu jauh lebih besar,” sambungya. Diprediksikan kecepatan jaringan 5G ini bisa mencapai 10 kali lebih cepat dari 4G. Dengan demikian, para pengguna harus membayar lebih untuk bisa menggunakannya. Sehingga tingginya tarif, diperkirakan hanyak akan digunakan oleh kalangan tertentu saja. Bukan hanya itu, pengadaan jaringan 5G ini juga memmbutuhkan banyak persiapannya. “Mendingan fokusnya pada bagaimana mengoptimalkan 4G yang ada sekarang, sehingga bisa dirasakan manfaatnya oleh konsumen, dibanding kita memaksakan 5G yang akhirnya konsumen harus membayar lebih mahal. Itu tidak sebanding menurut saya,” tambah Fahroni Arifin.

  • 4G Belum Optimal Di Beberapa Daerah Di Indonesia

Di beberapa daerah tertentu di Indonesia, masih banyak yang belum bisa mengakses jaringan internet 4G. Jadi, dengan masih terbatasnya akses ini menunjukkan bahwa 4G belum optimal di Indonesia. Dengan demikian, 5G belum bisa dipastikan bagaimana prospeknya di Indonesia. “4G kita saat ini belum maksimal, kita paling cepat itu 30Mbps. Padahal 4G itu potensinya bisa sampai 200Mbps. Jadi 4G kita saat ini belum sepenuhnya matang,” kata Fahroni Arifin. Mungkin itu saja artikel untuk kali ini semoga ada guna dan manfaatnya bagi anda semua.

Comments have been closed/disabled for this content.